Banjir Kepung Bantul, 2 Jembatan Antar-Kecamatan Ambrol

Liputan6.com, Bantul - Hujan deras yang mengguyur Daerah Istimewa Yogyakarta, selama dua hari terakhir nyaris tanpa henti menimbulkan banjir dan meluapkan sejumlah sungai. Bahkan, dua jembatan di Kabupaten Bantul, ambrol.

Akibatnya, akses jalan yang menghubungkan Desa Srihardono dengan Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong serta Desa Tamantirto dengan Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, terputus.
Usia jembatan gantung yang berada di Kecamatan Pundong itu sudah tua dan belum sempat diperbaiki. Sementara jembatan di Kecamatan Kasihan sebagai akses jalan utama, sehingga warga yang melintasi wilayah itu harus menggunakan jalur alternatif dan memutar beberapa kilometer.
"Jembatan gantung roboh karena terbawa arus air Kali Opak yang meluap," ucap Kepala Desa Seloharjo, Mahardi Badrun, Selasa (28/11/2017). Ia menjelaskan, robohnya jembatan berlangsung dramatis dan beberapa warga sempat mengabadikan lewat telepon seluler atau ponsel.
Banjir juga mengakibatkan 20 hektare lahan padi yang berusia 35 hari di Desa Donotirto, Kecamatan Kretek, Bantul, tergenang. Banjir yang menggenangi kawasan itu juga membuat 20.000 ekor ikan di kolam milik warga setempat hilang.
Talut Sungai Winongo yang membelah Desa Donotirto, juga longsor sepanjang 20 meter. Jalan kampung di samping talut pun terancam. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto, mengatakan sampai saat ini masih menghimpun data kerusakan akibat bencana banjir dan longsor.
"Kami akan mengecek ke lokasi dan petugas masih melakukan update data terbaru," ujar Dwi.
Bencana banjir tak hanya terjadi di Kabupaten Bantul, DIY. Tingginya curah hujan di Provinsi Jambi, juga mulai menimbulkan bencana. Terkini, ada beberapa daerah dilanda banjir dan tanah longsor. Seperti di Kabupaten Sarolangun, Tebo, dan Kota Sungaipenuh.
Iwan, salah seorang sopir travel jurusan Kota Jambi-Kota Sungaipenuh mengatakan, longsor terjadi di jalur Kota Sungaipenuh menuju daerah Tapan. Tepatnya di kilometer 35 dan 37.
"Sampai Senin siang tadi, jalur masih tertimbun longsor. Lalu lintas lumpuh, dan kabarnya ada satu mobil terjebak longsor juga," ujar Iwan saat dihubungi, Senin malam, 27 November 2017.
Menurut Iwan, jalur Kota Sungaipenuh menuju Tapan memang rawan akan longsor. Sebab jalur tersebut diselingi tebing yang cukup tinggi. Apabila masuk musim penghujan maka bisa memicu longsor.
Longsor tersebut juga dibenarkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sungaipenuh, Paunal Akhyar. Untuk mengatasi longsor tersebut, pihaknya sudah menurunkan sejumlah alat berat ke lokasi dengan dibantu petugas dari Tim Reaksi Cepat (TRC).
"Daerahnya memang rawan akan longsor karena kondisi tanah yang labil," ujar Paunal.
Ia pun mengimbau agar warga berhati-hati saat melintasi jalur Kota Sungaipenuh menuju Tapan. Jalur berstatus jalan nasional dikenal sebagai langganan longsor saat musim hujan tiba.


0 komentar: