Yogyakarta (ANTARA News) - Pendidikan karakter memerlukan bimbingan, keteladanan, pembiasaan atau pembudayaan dari senior agar efektif, kata Rektor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Edy Suandi Hamid.

"Dalam konteks itu kami mengambil contoh panutan yang merupakan alumni Universitas Islam Indonesia (UII) yang juga Hakim Agung Artidjo Alkostar. Artidjo layak untuk dijadikan representasi keberhasilan pola pendidikan karakter," katanya di Yogyakarta, Sabtu.

Pada wisuda lulusan UII, ia mengatakan Artidjo merupakan sosok yang jujur, amanah pada tugas, dan memiliki komitmen tinggi dalam pemberantasan korupsi dan narkoba. Komitmen itu mengantarkan Artidjo sebagai individu yang ditakuti oleh koruptor dan bandar narkoba.

Selain Artidjo, UII juga memiliki tokoh panutan yang berintegritas seperti mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Ketua Komisi Yudisial (KY) Suparman Marzuki, Hakim Agung Salman Luthan, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas, dan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah.

Ia mengatakan UII telah lama menjadikan komponen pendidikan karakter dalam kurikulum akademik. Hingga saat ini proses tersebut terus dikembangkan.

"Pendidikan karakter adalah proses holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik untuk dijadikan fondasi terbentuknya generasi berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memegang prinsip kebenaran," ujarnya.

Menurut dia, hingga saat ini potret dunia pendidikan di Tanah Air tampaknya belum mampu terlepas dari berbagai persoalan seperti tawuran pelajar, sektor pendidikan yang dijadikan salah satu lahan subur praktik korupsi, dan banyak orang berlatar belakang akademisi yang terkena kasus korupsi.

"Kondisi semacam itu seolah kian menegaskan bahwa lembaga pendidikan telah kehilangan semangat aktualisasi visi dan misi pendidikan khususnya dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara," tukasnya.

Kondisi itu, kata dia, juga menunjukkan adanya kemerosotan nilai-nilai moral dan lunturnya karakter bangsa akibat dari penerimaan secara mentah-mentah globalisasi.

"Akibatnya, muncul dampak negatif seperti pola hidup konsumtif, sikap individualis, dan kesenjangan sosial. Oleh karena itu, perlu langkah solutif untuk menyelesaikan krisis pendidikan saat ini, salah satunya dengan mengembalikan roh pendidikan karakter yang selama ini seakan hilang dari dunia pendidikan di Tanh Air," ucapnya.

Pada wisuda periode II tahun akademik 2013/2014 itu UII meluluskan 479 orang terdiri atas 27 lulusan program diploma tiga, 380 (strata satu), 70 (strata dua), dan dua lulusan program strata tiga.(*)