London (ANTARA News) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh saat membahas Kurikulum 2013 di Forum Pendidikan Dunia (EWF) 2014 berkeyakinan bahwa  pendidikan memainkan peran strategis dalam kemitraan global serta dapat memutus lingkaran setan dalam pengentasan kemiskinan.

Dalam Education World Forum (EWF) itu Nuh memimpin debat "Ke Sekolah atau Tidak" (to school or not to school) dari sejumlah pakar pendidikan dunia bersama peraih penghargaan pendidikan dari Kolumbia Vicky Colbert dan dari India Ramji Raghavan, demikian penjelasan Atase Pendidikan KBRI London T.A Fauzi Soelaiman kepada ANTARA News, Selasa.

Dalam Forum pendidikan dunia yang dihadiri 101 menteri dari berbagai negara, dan lebih dari 90 negara mengirimkan perwakilannya itu menampilkan 60 pembicara internasional, dan Mendikbud RI menyampaikan Kurikulum 2013.

Nuh mengemukakan, abad ini kreativitas dan inovasi menjadi aset yang paling penting yang perlu di dimiliki anak didik.

Melalui pendekatan ilmiah dalam pembelajaran, ia menyatakan, metode baru telah berkembang menjadi kekuatan dan siswa harus aktif terlibat dalam mengamati, bertanya, bergaul dan bereksperimen.

Dikatakannya, tanpa kemitraan global, maka mustahil untuk membangun perdamaian dan harmoni, serta tanpa perdamaian dan harmoni, maka mustahil menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

"Tanpa pembangunan berkelanjutan adalah mustahil untuk mengubah ekonomi untuk lebih banyak pekerjaan dan pertumbuhan yang inklusif. Tanpa itu, pengentasan kemiskinan hanya mimpi," ujarnya.

Dalam kesempatan itu Nuh menyampaikan pengalaman Indonesia bahwa untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang perlu menjadi perhatian adalah pada pendidikan dasar, dan harus di mulai dengan mempromosikan pendidikan anak usia dini.

Menurut Mendikbud, menjalankan pendidikan lebih lama melalui pendidikan menengah universal yang dapat menjangkau masyarakat yang lebih luasm dan sulit dijangkau melalui layanan pendidikan khusus bagi mereka dengan hambatan geografis, ekonomi atau sosial.

Dikatakannya sejak 2011, Indonesia telah memilih mereka sebagai agenda pembangunan pendidikan utamanya.

Ia juga mengatakan, pendidikan harus mengatasi tiga kompetensi, yaitu sikap yang berkaitan dengan etika, keterampilan yang berkaitan dengan fisik dan estetika, serta pengetahuan yang berhubungan dengan logika.

Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya untuk pikiran, tetapi berguna untuk roh dan tubuh pendidikan yang bukan hanya untuk belajar pengetahuan, tetapi berguna untuk mempraktikan keterampilan, terutama keterampilan kreativitas dan untuk membangun sikap positif , ujar Nuh.

Mulai tahun akademik 2014/2015, ia mengungkapkan, Kurikulum 2013 akan dilaksanakam di seluruh Indonesia yang melibatkan lebih dari 208.000 sekolah, 31 juta siswa dan sekira 1,4 juta guru.

"Kami percaya melalui program strategis ini proses pembelajaran akan berbobot untuk meningkatkan kreativitas siswa secara maksimal seperti yang ditunjukkan dalam sebuah laporan riset terbaru oleh J. H. Pencelup pada 2011," ujarnya

Ia menambahkan, peran pendidikan tidak terbatas pada manfaat ekonomi, tetapi lebih luas dari itu menyangkut penguatan daya saing nasional, pengurangan kemiskinan, penguatan demokrasi dan memastikan globalisasi yang membuat konvergensi peradaban, dan bukan benturan peradaban. (*)