Kurikulum 2013 Revolusi Akhlak


Menteri Pendidikan Proh M Nuh diwakili Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Penjamin Mutu Pendidikan Kemendikbud Prof Dr Syawal Gultom MPd mengatakan, kurikulum 2013 konstruksi kompetensinya itu yang paling penting adalah bagaimana memperkuat pengetahuan, dilanjutkan dengan keterampilan serta diikuti sikap. Jangan dikatakan kurikulum 2013 itu yang penting sikap, bukan karena keterampilan tidak bisa berkembang tanpa pengetahuan.
“Kurikulum 2013 memang karena revolusi akhlak di sekolah, tetapi kurikulum ini memperkuat pengetahuan dibanding negara tetangga. Sebab, pengetahuan kita juga masih bermasalah,” katanya.
Hal itu dikatakan Prof Syawal Gultom pada pertemuan ilmiah Forum Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Jurusan Ilmu Pendidikan (JIP) se-Indonesia di Garuda Plaza Hotel, Medan, yang dilaksanakan FIP Universitas Negeri Medan (Unimed) sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia khususnya dalam penerapan kurikulum baru tahun 2013 dalam menghasilkan calon pendidikan dan tenaga kependidikan yang terdidik
Dikatakannya, guru-guru kita digugat bukan soal pengetahuan yang rendah, tapi penghayatan dari pendidikannya yang kurang. Karena itu memang guru itu pekerjaan paling sulit di dunia ini dibanding profesi mana pun karena tidak mudah mencontohkan kepada anak-anak.
Kegagalan kita yang utama di sekolah adalah kegagalan membangun sikap anak. Persoalannya bagaimana anak itu berterima tentang kejujuran, disiplin dan yang lainnya. Ada dua cara membangun keberterimaan, pertama inspirasi dan kedua menjadi contoh. Sebab karakter tidak bisa diajarkan, hanya bisa dicontohkan.
Dibanding Singapura mengapa lebih makmur dari kita? kata Syawal, mereka lebih jujur dan bertanggungjawab dan lebih disiplin. Sama seperti Malaysia, Thailand, Korea, Jepang, Belanda, Inggris dan Jerman. Mereka lebih makmur, jawabnya karena mereka lebih jujur.
Jangan pernah ditemukan orang minta-minta di Malaysia, karena mereka dikumpulkan dan tiap bulan dibagi beras, ikan, gula dan lain-lain. Jangan pernah ditemukan gelandangan di Singapura, karena semua gelandangan ditangkap dan dimasukkan ke rumah gedong dan disekolahkan. Bahkan yang belum bisa baca walaupun sudah tua dimasukkan kembali SD. Kenapa? karena mereka lebih jujur, kata Syawal.
Ketika guru bisa menginspirasi jujur itu lebih baik, maka murid akan mencoba tampaknya perlu juga menjadi orang jujur. Karena itu, kalau kita didik orang jujur mulai SD mudah-mudahan setelah besar sulit menjadi tidak jujur,kata Syawal yang mantan Rektor Unimed itu.
Sebelumnya Rektor Unimed Prof Ibnu Hajar mengatakan, pertemuan ini menjadi hal yang penting. Cukup banyak orang pintar, tapi banyak persolan yang mendera bangsa ini. Justru itu, pendidikan kita harus menghasilkan orang yang berbudi pekerti dan jujur.Apakah kita perlu orang pintar saja atau terdidik. Kalau yang pintar tidak terdidik tentu jauh dari harapan Ki Hajar Dewantara yang menyatakan pendidikan itu harusnya menghasilkan orang yang berbudi pekerti.
“SDM yang berbudi pekerti tentu berkarakter. Inti dari untuk menghasilkan itu sangat tergantung pada layanan pendidikan dan itu semua tergantung peran guru di kelas. Karena hasil penelitian, 35 persen peran guru penting dalam menghasilkan pembelajaran yang baik,” pungkasnya. (Bar)


0 komentar: